Saturday, 4 August 2012

Fakta sebenar tentang genosid Muslim Rohingya di Burma

Arrahmah.com) - Pembantaian dan kekejian lainnya terhadap Muslim Rohingya di Burma (Myanmar)-terutama di Arakan-sebenarnya bukan pertama kalinya di tahun ini, namun dimulai pertengahan tahun ini penindasan terhadap Muslim di Arakan meningkat tajam hingga mengejutkan mata dunia.
Selama ini, media Islam-lah yang berusaha untuk mengungkap tragedi berdarah yang menimpa umat Islam di Burma disaat media internasional 'kelas atas' pada umumnya bungkam, sehingga banyak orang di dunia tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya terhadap Muslim Rohingya. Namun, fakta-fakta yang dipaparkan selama ini oleh media Islam masih saja menghadapi berbagai
hujatan dan kritikan dari orang-orang yang ragu, meskipun sumbernya dari mereka yang memiliki koneksi  langsung ke Muslim Rohingya di Arakan. Terlebih lagi, beredarnya beberapa foto-foto hoax tentang genosida Muslim Rohingya baru-baru ini juga dijadikan alasan sebagian orang untuk tidak mempercayai fakta yang ada. Walaupun begitu, fakta tetaplah fakta, yang pasti akan terungkap meskipun disembunyikan dan meskipun banyak orang yang meragukan.
Berikut ini adalah sebuah pemaparan fakta terkait genosida atau upaya pembersihan etnis Muslim Rohingya....klik tajuk / link
di Burma yang ditulis dan dipublikasikan oleh salah satu media jihadGlobal Islamic Media Front, yang diterjemahkan oleh tim Maktabah Jahizuna, berdasarkan laporan kredibel dari tempat kejadian, untuk mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya terjadi dan bantahan bagi orang-orang yang meragukan genosida ini dan bahwa kerusuhan etnis ini bukan dipicu oleh kaum Muslimin.
***
Sebab Awal Pembantaian ini?
Pembantaian ini di awali dari fitnah yang disebarkan oleh orang-orang Budha Rakhine terhadap minoritas Muslim Rohingnya. Dimana dikatakan bahwa tiga pemuda Muslim telah membunuh dan memperkosa seorang wanita berusia 26 tahun. Tentu saja semua itu bohong. Dimana sebenarnya perempuan itu diperkosa dan dibunuh oleh pacarnya bersama beberapa gang pemuda Budha Rakhine. Peristiwa pembunuhan itu di awali ketika sang gadis ingin "putus" dengan sang pacar dikarenakan dia jatuh hati pada laki-laki lain. Maka sang laki-laki pun berusaha membujuk agar tidak putus. Namun ternyata ditolak, maka sang mantan pacar ini marah dan kemudian mengajak dua temannya untuk membalas dendam dengan memperkosa dan membunuh sang gadis.
Lalu para pembunuh itu meletakkan mayat gadis itu di dekat desa Muslim. Kemudian orang-orang Budha Rakhine dan Quaffer Burma (Otoritas Myanmar) menuduh bahwa orang-orang Muslim membunuh perempuan itu. Akibatnya, tiga pemuda Muslim yang tidak bersalah ditangkap. Satu dipukuli hingga tewas dan dua lainnya dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Inilah fakta yang ditunjukkan oleh Pemerintah Budha Burma kepada dunia, bahwa mereka berani menciptakan peristiwa dan kasus palsu hanya untuk mencari kesempatan membunuh Umat Islam Rohingnya.
Situasi Muslim Rohingya Sebelum Awal Genosida ini
Beberapa bulan sebelumnya, para ekstrimis Budha Rakhine dan Xenophobia, mereka banyak membuat propaganda-propaganda anti Muslim Rohingnya. Dan semua itu direlease baik di dalam maupun di luar Burma. Dengan mengusung slogan lama yakni "Rohingnya (sebutan untuk Muslim di sana -pent) bukanlah orang Burma, mereka adalah imigran gelap dari Bangladesh". Dengan maksud untuk memusnahkan dan mengusir Kaum Muslimin di sana.



Propaganda Anti Rohingnya
Anehnya, seluruh kejadian yang ada (protes dan sebagainya -pent) seperti telah diorganisir dan seluruh kejadian yang terjadi sesuai dengan statemen dan skema yang pernah dikeluarkan oleh beberapa Menteri dan Pihak Pemerintah yang berkuasa.
Bagaimana Pembantaian itu Dimulai dan Apa Yang Terjadi Setelah itu?
Pada tanggal 3 Juni 2012, Rombongan Jemaah Muslim Rangoon yang baru kembali dari pengajian dan wisata rohani di Masjid Thetsa di daerah Thandwe di Negara bagian Arakan Selatan. Para Jamaah mengendarai bus yang menuju daerah Rangoon, namun di tengah perjalanan mereka dihadang oleh massa Budha Rakhine di kota Taungup di Negara Arakan bagian selatan. Lalu tiba-tiba massa mengamuk dan berusaha membunuh semua penumpang. Dimana seorang pemandu, kernet dan seorang wanita meninggal. Lalu di pihak Jemaah 8 orang Jemaah tewas. Dan lima Jamaah lainnya dapat melarikan diri dengan selamat.



Para korban Jamaah Muslim

Kejadian ini terjadi di depan Kantor Imigrasi. Pada mulanya gerombolan Teroris Budha Rakhine itu menghentikan bus naas yang berplat nomor 7 (GA) 7868 ini. Mereka menghentikan bus tepat di depan gerbang Imigrasi. Sembari membawa senjata mereka menurunkan semua penumpang bus dan berteriak, "Turun semua, kami mencari orang-orang asing !!!" (sebutan untuk kaum Muslimin Rohingnya, yang tidak dianggap sebagai Warga Negara Burma –pent).
Lalu pemandu jalan dan beberapa penumpang bus turun dan meminta agar massa teroris itu tidak melakukan hal-hal yang berbahaya terhadap seluruh penumpang. Namun para teroris itu tidak menghiraukan mereka dan memasuki bus secara paksa, lalu berteriak pada para penumpang bahwa mereka mencari "orang-orang asing". Kemudian mereka mulai memukuli dan menyeret para Jamaah Muslim turun ke jalanan. Para teroris Rakhine yang berjumlah sekitar 300 orang itupun mengeroyok beberapa Jamaah Muslim hingga tewas. Lalu setelah itu massa teroris itu juga menghancurkan dan membakar bus tersebut.
Anehnya, massa sebelumnya telah berkumpul di depan gerbang kantor Imigrasi pemerintah, namun tidak ada satupun pihak yang berwenang yang berusaha membubarkan mereka sebelumnya. Dan pada saat kejadian itupun tidak terlihat adanya aparat maupun petugas kantor Imigrasi yang berusaha mencegah pembantaian itu.



Para korban adalah Jamaah Muslim

Berdasarkan daftar yang beredar, delapan korban Muslim yang berangkat dari Masjid Tachan Pai ke Tandwe, semuanya berasal dari Burma tengah. Berikut data mereka:
  • Muhammad Sharief @ U Ne Pwe s / o U Ahmed Suban, 58 8/Ta Ka Ta (N) 095548, dari Taung Twin Gyi
  • Muhammad Hanif @ U Maung Ni s / o U kay sufi Pe, 65 8/Ta Ka Ta (N) 095530, dari Taung Twin Gyi
  • Shafield Bai @ U Aye Lwin s / o UA Hpoe Gyi, 52 8/Ta ka Ta (N) 093573, dari Taung Gyi Twin
  • Aslam Bai @ U Aung Myint s / o U Hla Maung, 508/Ta ka Ta (N) 094557, dari Taung Twin Gyi
  • Balai Bai @ Tayzar Myint s / o U Yakub, 288/Ta ka Ta (N) 189815, dari Taung Twin Gyi
  • Shuaib @ Tin Maung Htwe s / o U Tin Oo, 218/Ta ka Ta (N) 231084, dari Taung Twin Gyi
  • Salim Bai @ Aung Kyaw Bo Bo s / o U Tun Tun Zaw, 2614/Ma La Na (N) 231084, dari Myaung Mya
  • Lukman Bai @ Nyi Nyi Zaw Htut s / o U Ibrahim, 3314/Ma La Na (N) 148133, dari Myaung Mya
Dan dua korban lainnya adalah pasangan suami istri dari kota Thandwe, merupakan awak bus. Para korban pun dikuburkan di Tandwe pada malamnya. Lima Jamaah lainnya berhasil melarikan diri dari pembunuhan brutal itu.
Lalu untuk merayakan hal itu, para teroris Rakhine meludahi dan mengguyur mayat-mayat kaum Muslimin yang tergeletak di tengah jalan itu dengan anggur dan minuman keras. Namun anehnya pula, tidak ada satupun orang yang ditangkap dan tidak ada tindakan hukum terhdapa para pembunuh itu.



Para korban Muslim dikuburkan di Thandwe pada malam 3 Juni 2012
Para Petugas Keamanan Rakhine Menjarah dan Membakar Seluruh Property Kaum Muslimin Rohingnya Dengan Alasan Uu No. 144
Pemberlakuan UU no. 144 oleh Otoritas Burma, memaksa komunitas Muslim Rohingnya dari Maungdaw tidak dapat keluar dari rumahnya ketika Aparat memasuki area mereka. Namun di sisi lain, orang-orang Rakhine bebas berkeliaran sehingga merekapun dengan bebas menyerang, menjarah dan membunuhi kaum muslimin di sana.



Orang-orang Buddha Rakhine dan personil Keamanan Burma membakar sebuah desa Muslim di malam hari




Para Buddha Rakhine dan keamanan Burma personil membakar sebuah desa Muslim di malam hari

Anehnya personil keamanan Burma itu, malah berusaha melindungi orang-orang Budha Rakhine, ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk membakar rumah penduduk Muslim Rohingnya.



Orang-orang Budha Rakhine dan personil keamanan Burma membakar sebuah desa Muslim di pagi hari




Personil keamanan Burma bersiap menembak kerumunan Muslim Rohingnya


Menurut seorang tetua Maungdaw bahwa Personil keamanan melepaskan tembakan secara memababi buta ke arah kerumunan Muslim Rohingya yang berusaha melindungi harta dan properti mereka.

Pada 8 Juni 2012, Personil Keamanan dan orang-orang Budha Rakhine melakukan penyerangan. Mereka membakar rumah beberapa orang yakni Razak, Lalu dan Syed Ahmad. Lebih dari lima toko pakaian di jarah, dimana total kerugian sekitar 150.000.000 kyat. Satu masjid di desa Sawmawna dihancurkan. Dan lebih dari 200 Muslim Rohingnya terluka.
Pada tanggal 9 Juni 2012, terjadi penyerangan oleh para teroris rasis Budha Rakhine dan Aparat Keamanan, dimana 100 orang tewas dan hampir 500 orang terluka.
Pembantaian Terhadap Kaum Muslim di Arakan Terus Terjadi Meskipun Pihak Tentara Telah Menyatakan Mereka Sudah Mengontrol Situasi yang Ada Sebagian besar kaum Muslimin Rohingnya melarikan diri ke Bangladesh dari Akyab. Hal ini karena terror dan kekerasan yang terjadi di Negara bagian Arakan tersebut, dimana desa-desa Muslim Rohingnya dibakar dan banyak Muslim Rohingnya yang dibunuh oleh Polisi, Aparat Kemanan dan para teroris Budha. Kaum Muslimin Rohingnya pun berbondong-bondong menuju Bangladesh, yang mana mereka berpikir bahwa Bangladesh adalah Negara Islam, sehingga karena sesame Muslim maka mereka akan di bantu.



Muslim Rohingnya yang meminta perlindungan dari Bangladesh




Muslim Rohingnya yang mencoba memasuki Bangladesh dengan menggunakan perahu, di dorong kembali ke laut
Sayangnya, thaghut murtad Pemerintah Bangladesh dan tentaranya menolak dan melarang Muslim Rohingnya memasuki Bangladesh. Dan jika ada Muslim setempat (Bangladesh) memberi bantuan atau menampung para pengungsi Muslim Rohingnya, maka mereka akan ditangkap dan bagi Muslim Rohingnya maka mereka akan di deportasi.



Tentara Thoghut Bangladesh mendorong Muslim Rohingya kembali ke laut
Semenjak 8 Juni 2012, pihak berwenang Burma baru-baru ini mendirikan sebuah ruang sidang khusus di dalam Kantor Polisi Maungdaw. Seorang Tetua setempat mengatakan, "Pengadilan Khusus itu digunakan untuk Muslim Rohingya yang ditangkap oleh Polisi, Nasaka (Pasukan Keamanan Perbatasan) dan Tentara; dengan tuduhan menciptakan masalah dan kerusuhan di Maungdaw. Tidak ada argumen maupun pembelaan dari terdakwa di Pengadilan Khusus ini. Dimana hakim hanya membaca pernyataan lalu mengirim mereka ke penjara. "
Siapapun tidak bisa menemukan kerabatnya, jika telah ditangkap oleh pihak berwenang. Dan mereka pun tidak mengetahui kapan dan bagaimana kerabatnya itu akan disidang di Pengadilan Khusus itu, kata seorang Politisi Maungdaw. Ini merupakan taktik baru yang dilakukan Otoritas Budha Burma, dalam memperkosa wanita Muslimah Rohingnya. Hal ini membuat tidak ada tempat aman bagi para Muslimah Rohingnya di Maungdaw. Kata seorang Politisi Maungdaw, "Semenjak 8-19 Juni 2012, telah tercatat lebih dari 60 perempuan diperkosa di Maungdaw oleh para Petugas Keamanan – baik itu Polisi, Hluntin (Pasukan Keamanan), Nasaka, dan Tentara- bersama dengan orang-orang Budha Rakhine dan Natala (pemukim baru)."
Pemerkosaan dan penyerangan itu dilakukan secara licik. Dimana sebelumnya, Pihak berwenang mengajak seluruh laki-laki di wajibkan untuk datang ke pertemuan mereka. Sementara semua orang melakukan pertemuan, Pasukan Keamanan-pun dikirimkan untuk memasuki dan menyerang desa-desa tersebut. Sebagian besar Muslimah Rohingnya yang tinggal di rumah mereka -pun diperkosa oleh Petugas Keamanan bersama orang-orang Budha Rakhine dan Natala. Mereka-pun menghancurkan dan menjarah harta yang ada. Berdasarkan keterangan dari para korban di Paungzarr, mereka menyatakan bahwa, "Pihak Keamanan - Tentara dan Nasaka - memasuki desa pada malam harinya ketika para lelaki mengikuti pertemuan oleh Pihak Berwenang. Para lelaki semuanya keluar menghadiri pertemuan karena takut ditangkap jika tidak berangkat.
Kemudian dengan liciknya Pasukan Keamanan memasuki rumah-rumah, dengan alasan hendak mengecek, adakah keluarganya yang tidak hadir dalam pertemuan itu. Lalu setelah itu merekapun diperkosa dengan keji."
Muslim tidak dilindungi di Arakan (Maungdaw dan Akyab) oleh pasukan keamanan – baik itu Nasaka, Hluntin, maupun Polisi - yang mana mereka telah menjelma menjadi "kekuatan pembunuh". Alih-alih mereka melindungi orang-orang yang tidak berdaya, mengendalikan situasi, dan memulihkan hukum dan ketertiban. Malah mereka mengamuk dan membakar desa-desa Muslim dan menembak orang-orang yang berusaha melarikan diri dari rumah-rumah yang terbakar.
Jam malam yang diberlakukan hanyalah upaya untuk melakukan pembunuhan secara sistematis terhadap Muslim di kota Akyab dan kota Maungdaw. Dimana ketika jam malam tiba, "orang-orang suci Budha" bersama para pengikutnya dari Arakan turun ke jalan-jalan, bersama-sama dengan Pasukan Keamanan. Mereka berjalan menuju ke desa-desa Muslim secara bersama-sama. Sesampai di sana, mereka mulai membanjiri tanah dengan darah Muslim Rohingnya, lalu memerahkan langit dengan api yang membakar desa dan properti kaum Muslimin Rohingnya. Dan membuat malam yang sunyi, penuh dengan teriakan dan ketakutan.
Hasbunalloh Wani'mal Wakil….
Sya'ban 1433
Juli 2012
Source: (Echo of Jihad Center for Media)
Global Islamic Media Front
Mengamati Berita Mujahidin dan Menginspirasi orang-orang mukmin
Alih Bahasa
Abu Muwahid hafidhahullah
Maktabah Jahizuna/jahizuna.com
(siraaj/arrahmah.com)

Wednesday, 1 August 2012

Berita Terkini dari Burma;

Berita Terkini dari Burma;

1) 52 ribu umat islam disembelih dlm mase hanye 6 minggu
2) 22 buah masjid dibakar, sebahagiannyer dibakar bersama dgn jemaah ketika menunaikan solat
3) 60 buah kampung islam di bakar...
4) wanita dirogol sampai mati
5) jenazah umat islam tidak dibenarkan di ambil,di tanam..mereke akan humban dlm laut atau dibiarkan hingga di baham anjing2
6) kedai2 mkn tidak dibenarkan menjual mknn pd umat islam
7) sesiapa yg betulkn kembali masjid yg dibakar td akn dihumban dlm penjara

SERUAN JIHAD TELAH DIPANGGIL WAHAI SAUDARA SEISLAMKU...JGN ANDA ALPA DAN LEKA LG WAHAI UMAT ISLAMMMMM....MARI BERJIHAD...JIHAD ITU TUNTUTAN WAJIB BG UMAT ISLAM SEKALIPUN UTK ORG YG BUTA MATANYA....!!!!!!

Sehubungan dgn itu..bg sesiapa yg berdekatan shah alam dan yg hampir dgnnya...kami perlukan BERAS,MINYAK DAN GULA untuk kami hantar pd sedara islam kita di sana...WAHAI UMAT ISLAMMMMM...BESOK tolong hantar ke SURAU AR-RAHMAH SEKSYEN 8 SHAH ALAM krn ada lori yg akan bawak bekalan mknn ini ke pulau pinang...di pulau pinang brg akn dipindahkn ke atas kapal..kapal akn bertolak ker Myanmar...stakat nih..Hanya ni shj jln yg mampu kiter lakukan DEMI MENYAHUT TUNTUTAN JIHAD KITER...INFAQ KAN HARTA ANDA PADA JLN JIHAD FISABILILLAH...KERANA GANJARANNYA 700 KALI GANDA...tlg war-war kan..mudahan kita dpt antar byk beras,gule dan minyak utk sedare islam kiter disana...amin ya ALLAH.

Kesaksian Horor Pada Tragedi Rohingya

"Orang-orang menangkap dan menggorok lehernya," kata saksi.
Warga Arakan pada konflik Rakhine-Rohingya

VIVAnews - Human Right Watch (HRW) pada Rabu 1 Agustus 2012 mengeluarkan laporan yang menunjukkan kekerasan oleh aparat keamanan terhadap Muslim Rohingya pada bentrokan antara Juni-Juli lalu. Dalam laporan tersebut, HRW mengambil kesaksian 57 warga Rohingya dan Rakhine yang terlibat bentrok.
Laporan setebal 56 halaman itu berjudul "Pemerintah Seharusnya Menghentikan Ini: Kekerasan Sektarian dan Pelanggaran di Arakan." HRW mengecam pemerintah Myanmar yang dinilai tidak mampu melindungi warga Rohingya, malah justru ikut serta membunuh dan memperkosa mereka. Dalam laporan, tidak disebutkan nama asli saksi, demi keamanan mereka.
Salah seorang Muslim Rohingya berusia 36 tahun mengatakan bahwa tentara Myanmar ikut berada dalam barisan etnis Rakhine di Arakan, turut menembaki warga. Polisi hanya melihat saat warga Rohingya disabet parang dan tongkat.

"Mereka (Arakan) membakar rumah-rumah. Ketika (warga Rohingya) mencoba memadamkan api, paramiliter menembaki mereka. Massa memukuli mereka dengan tongkat besar. Kami mengumpulkan 17 mayat dengan bantuan tentara. Saya cuma bisa mengenali satu orang, namanya Mohammad Sharif. Saya lihat peluru menembus dada kirinya," kata saksi.

Saksi lainnya yang berusia 28 tahun membenarkan hal ini. Dia mengatakan bahwa tentara menembaki mereka dari dekat. Dia bahkan mengatakan korban saat itu berjumlah 50 orang. Saksi lain berusia 36 tahun mengatakan korban jatuh terdiri dari wanita dan anak-anak. "Saya lihat enam orang tewas. Satu wanita, dua anak-anak, dan tiga lelaki," kata dia.

Seorang wanita Rohingya di Sittwe berusia 38 tahun mengatakan pada HRW bahwa pada Juni lalu 50 orang Arakan mengepung rumahnya. Saat itu, sama sekali tidak ada kehadiran polisi dan aparat keamanan.

"Mereka menunjuk rumah kami dan bilang 'Ini adalah rumah Muslim' lalu 10 orang naik ke atas. Ipar saya berusaha kabur dengan lompat keluar jendela. Ketika melompat, orang-orang di luar menangkap dan menggorok lehernya. Kami sembunyi di balik pintu yang sulit ditembus. Mereka bilang 'keluar atau kami bakar, pilih mana?'," kata wanita itu.

Suami wanita tersebut adalah seorang pengusaha yang kerap berhubungan dengan polisi. Ketika suaminya menelepon kenalan polisinya, tidak diangkat. Dia, suami, mertua, dua pembantu dan tetangganya dipukuli. Beruntung, massa lainnya melerainya. Jika tidak, dipastikan mereka tewas.

Lalu massa mengarak mereka ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan, mereka jadi bulan-bulanan massa. "Ketika kami sampai, ada 200-300 orang polisi. Beberapa dari mereka teman suami saya. Dia (suami) bertanya, 'kenapa tidak melindungi kami?' polisi itu menjawab 'Kami belum mendapat perintah untuk bergerak. Kami masih menunggu perintah'," lanjutnya lagi.

Pemerintah Myanmar melaporkan 77 orang tewas dalam peristiwa tersebut. Namun, jumlahnya diperkirakan jauh lebih banyak daripada itu. Dalam laporan HRW, aparat dikatakan melarang Muslim Rohingya untuk mengubur kerabat mereka yang tewas dengan cara Islami, beberapa akhirnya dikremasi.

"Saat kekerasan terjadi pada 8 Juni, mayat-mayat ditumpuk dekat jembatan. Kami tidak boleh mengambilnya, untuk mengubur secara agama. Saat ini, jika seseorang melihat ke bawah jembatan, mereka bisa melihat mayat di bawahnya," kata seorang saksi lain. (eh)
sumber

Monday, 30 July 2012

Muslim Rohingya, Ukhuwah yang Terkoyak


“Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa,” ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.
Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.
Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.
Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.
Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.
Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.
Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.
Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.
Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.
Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.
Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.
Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.
Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.
Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.
Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.
Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.
Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.
Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.
Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.
Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.
Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.
Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.
Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.
Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.
Sumber : Republika
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Heri Ruslan

Friday, 27 July 2012

Rohingya : Antara Berita, Cerita Dan Derita - Artikel Dan Foto

Presiden Myanmar Thein Sein pada 19Julai telah berkata, Orang Islam Rohingya perlu dihalau keluar dari negara dan dihantar ke khemah khemah pelarian kendalian PBB.

Myanmar’s President Thein Sein said on July 19 that the "only solution" to the plight of Rohingya Muslims is to send the country’s nearly one million Muslims -- which is one of the world's most persecuted minorities -- to refugee camps run by United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).  Sumber - RARC


Sedangkan dalam masa yang sama, Perdana Menteri Bangladesh, yang menempatkan kebanyakan khemah khemah pelarian itu pula telah berkata, pelarian Rohingya bukan tanggungjawab negara itu. Ujarnya, Bangladesh mempunyai lebihan populasi rakyat dan tiada tempat untuk pelarian.


Malah dari banyak laporan yang dikeluarkan, memang benar, kerajaan Bangladesh telah mengusir ramai pelarian Rohingya yang ingin menyelamatkan diri dari rusuhan kaum/agama yang berlaku di Arakan, untuk kembali ke dalam perbatasan Myanmar. Ada diantara mereka ditahan ditengah tengah sungai Naf dan diarahkan untuk berpatah balik. 





Foto yang menunjukkan pihak pengawal sempadan memintas bot bot pelarian di pertengahan Sungai Naf dan memaksa mereka untuk berpatah balik atau ditunda ke laut lepas.

Sementara itu, dalam masa yang sama, harapan pada pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi turut berkecai apabila 'ikon hak asasi' itu dikatakan enggan untuk mengkritik tindakan Thein Sein yang seolah olah menggalakkan proses penghapusan etnik.

Malah apa yang lebih mendukacitakan, Suu Kyi seolah olah meletakkan kesalahan ke atas kaum Rohingya apabila meminta mereka untuk patuh pada undang undang imigresen dan menghormati kedaulatan undang undang, persisnya kaum Rohingya adalah kaum pendatang di Myanmar. - Rujuk 

Foto Foto Rohingya

Mangsa yang tercedera ketika menyeberangi sempadan sedang dirawat di Hospital Bangladesh namun akan dihantar pulang semula ke Myanmar kerana menceroboh secara haram.






Senario yang menunjukkan beberapa rumah dan kampung dibakar oleh puak pemberontak kaum Rakhine di daerah Sittwe.

Pihak tentera yang dikatakan turut mengambil bahagian dalam peristiwa pembantaian orang Islam Rohingya

Puak Rakhine ini sedang menunggu sesiapa sahaja yang keluar dari rumah (yang dibakar) untuk dibunuh.. dalam laporan dibeberapa tempat lain mengatakan mereka mereka ini bersubahat dengan pihak berkuasa tempatan Nasaka untuk melakukan rampasan dan rompakan secara terbuka terhadap orang Islam Rohingya. Rujuk Berita - Ar Rahmah



Antara mangsa mangsa yang terbunuh sejak terjadinya cetusan rusuhan kaum/agama di Arakan

Kanak kanak/remaja turut menjadi mangsa apabila mereka ditahan oleh pihak berkuasa dimana keluarga mereka tidak akan diberitahu  di pusat/penjara mana mereka akan ditempatkan. Ramai diantara mereka yang terus hilang tanpa dapat dikesan (dipercayai dibunuh)

Penduduk Islam disana tidak diberi layanan berperikemanusiaan. Mereka diherdik, dihina, dihalau, dan diperlakukan wewenangnya. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh PBB, Rohingya merupakan puak minoriti  yang paling tertindas didunia. Rujuk Harakahdaily


Wajah wajah hampa saudara Rohingya .. kemana lagi arah yang harus mereka tuju apabila dunia atau negara negara Islam khususnya, tidak berjaya untuk menunjukkan jalan keluar yang terbaik untuk mereka. Kepada siapa lagi yang perlu mereka susunkan tangan untuk memohon bantuan ?
- See more at: http://ghaflah.blogspot.com/2012/07/rohingya-antara-berita-cerita-dan.html#sthash.qcWEW57L.dpuf

Wednesday, 25 July 2012

Rohingya – Menyayat Hati…

“Barangsiapa yang tidak mengambil peduli umat Islam yang lain, dia bukan dari golonganku”[H.R At-Tabrani]

TERINI… Masjid dibakar!!
Terkini…24 july 2012 …peristiwa tragis dan menyayat hati umat Islam Rohingya…Masjid tempat beribadah hangus dibakar!
Kirimkan doamu teman…kita mengadu pd Allah yg Maha Kuasa… Hanya itu yang dapat kita lakukan…
Difahamkan hampir 2.8 juta orang Islam Rohingya telahpun menjadi mangsa penindasan di Myanmar…
“Dalam keseriusan isu umat Islam yang berlaku kini di Syria, Palestin, Iraq dan selainnya, rantau asia juga tidak terlepas daripada mengalami masalah penindasan umat Islam yang dapat diperhatikan seperti yang berlaku sebelum ini di Kemboja, Thailand, dan yang dikecohkan baru-baru ini ialah di Myanmar, isu ‘penghapusan etnik’ Muslim Rohingya di Arakan, Myanmar.
Menurut maklumat yang didapati, sebenarnya, isu Muslim Rohingya baru-baru ini bukanlah satu perkara baru dan ia sebenarnya telah lama dialami oleh masyarakat muslim di Myanmar, khususnya etnik Rohingya ini yang merupakan satu etnik daripada 153 etnik di Myanmar, yang beragama Islam.
Penderitaan Muslim di Myanmar bermula pada 1982 lagi apabila secara tiba-tiba Muslim Rohingya diisytiharkan pendatang asing di negara sendiri. Muslim Rohingya ditindas melalui undang-undang “Burma Citizenship Law of 1982” yang bersifat perkauman agama dan penuh diskriminasi yang diluluskan oleh pemerintah junta Burma pada tahun 1982, yang mengakibatkan golongan muslim Rohingya tidak diiktiraf sebagai warganegara, malah diisytiharkan sebagai ‘pendatang’ di tanahair mereka sendiri. Oleh yang demikian, hak mereka dinafikan, malahan ada yang ditangkap, dipukul dan pelbagai kekejaman lain yang dikenakan kepada mereka.
Sebahagian besar daripada mereka melarikan diri ke negara-negara jiran seperti Bangladesh, United Arab Emirates, Pakistan, Thailand dan termasuk Malaysia sendiri.
Disebabkan penindasan ini, mereka dinafikan hak seratus peratus sehingga anak-anak muslim Rohingya dinafikan pendidikan, kaum wanita dirogol, rumah, tanah dan harta dirampas tanpa pampasan dan mereka juga turut dibunuh tanpa sebarang lingkung pagar undang-undang.
Dikatakan, mereka hanya akan diberikan hak, jika mereka menganut agama Buddha dan meninggalkan Islam.
Ini kisah 30 tahun yang lalu, yang dialami oleh umat Islam Rohingya di Arakan, Myanmar, sehingga kini,.
Dan baru-baru ini kita dikejutkan dengan pergaduhan antara umat Islam Rohingya dan penganut Buddha etnik Rakhine di Myanmar. Menurut berita yang dikeluarkan, sejak 3 Jun 2012 yang lalu wilayah Arakan di Myanmar bergolak apabila pihak polis bersama etnik Rakhine bergabung menyerang komuniti Rohingya menyebabkan ratusan yang terbunuh.
Isu ini makin lama dilihat makin parah apabila umat Islam Rohingya tanpa belas kasihan dibunuh, rumah dan kampung dibakar, termasuk masjid dan madrasah pengajian juga dibakar termasuk 1400 pelajar di dalamnya yang dilakukan oleh etnik Rakhine Buddha yang bersekongkol dengan pihak polis dan penguatkuasa.
Umat Islam Rohingya kini tiada kuasa dan suara mereka tidak didengari oleh sesiapa! Mahupun dunia!
Maka, setelah mengetahui semua ini, wajarkah untuk kita hanya duduk diam, tanpa mengambil tahu perihal keadaan mereka, serta membantu untuk mengembalikan kembali hak mereka?
Adakah kita hanya ingin mengharapkan kuasa UN, PBB, dan sebagainya (yang maklum dinaungi oleh golongan kafir) untuk membantu umat Islam Rohingya?
Ingatlah wahai saudaraku,
Ini bukanlah masalah muslim Rohingya semata-mata. Namun, bila disebut MUSLIM itu, sepatutnya kita juga merasa terpanggil untuk bersuara dalam isu ini. Kerana Allah SWT ada berfirman, bahawa setiap orang beriman itu adalah bersaudara. Maka, sanggupkah kita membiarkan saudara kita ditindas begitu sahaja tanpa sedikitpun bantuan dan kecaknaan dari kita? Bayangkanlah jika yang ditindas itu adalah ibu bapa kita, adik beradik sendiri…apakah kita hanya duduk memerhati? Sedarkah kita bahawa, mereka kini sedang mempertahankan akidah Islam?
Oleh itu, di sini saya (walaupun saya bukanlah juga di antara mereka yang lantang bersuara), menyeru kepada semua yang membaca agar kita mendoakan saudara seakidah di sana, di atas kelemahan dan ketidakmampuan kita untuk membantu lebih dari itu (namun, jika kudrat melebih daripada ini, bantulah dengan berlebih-lebih lagi).
Dan saya juga menyeru agar pihak yang terbabit di Malaysia mengambil berat akan isu ini dan mengambil tindakan untuk menunjukkan keprihatinan rakyat Malaysia, khususnya umat Islam di Malaysia terhadap isu ini dan juga NGO’s agar melakukan sesuatu untuk bersuara bagi pihak mereka.
Wallahu a’lam…”
Terima kasih kerana membaca.. I think u know what should we do as Muslim.. http://mysarikei.blogspot.com/