Monday, 30 July 2012

Muslim Rohingya, Ukhuwah yang Terkoyak


“Kami meninggalkan Myanmar karena kami diperlakukan dengan kejam oleh militer. Umat Muslim di sana kalau tidak dibunuh, mereka disiksa,” ujar seorang pengungsi, Nur Alam, seperti dikutip BBC, beberapa waktu lalu.
Nur bersama 129 Muslim Rohingya begitu umat Islam yang tinggal di utara Arakan, Myanmar, biasa disebut terpaksa harus meninggalkan tanah kelahirannya.
Ia bersama kawan-kawannya nekat melarikan diri dari Myanmar dengan menumpang perahu tradisional sepanjang 14 meter. Mereka berjejalan di atas perahu kayu dengan bekal seadanya. Akibat mesin perahu yang mereka tumpangi rusak, Muslim Rohingya pun harus rela terkatung-katung di lautan yang ganas.
Hingga akhirnya, mereka ditemukan nelayan Aceh dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut Nur, mereka terombang-ambing ombak di lautan ganas selama 20 hari. Kami ingin pergi ke Indonesia, Malaysia, atau negara lain yang mau menerima kami, tutur Nur. Demi menyelamatkan diri dan akidah, mereka rela kelaparan dan kehausan di tengah lautan.
Begitulah potret buram kuam Muslim Rohingya yang tinggal di bagian utara Arakan atau negara bagian Rakhine. Kawasan yang dihuni umat Islam itu tercatat sebagai yang termiskin dan terisolasi dari negara Myanmar atau Burma. Daerah itu berbatasan dengan Bangladesh.
Sejak 1982, Undang-Undang Kewarganegaraan Burma tak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara Myanmar. Pemerintah di negara itu hanya menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh atau keturunannya. Terjebak dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan seperti itu, kaum Rohingya pun memilih untuk meninggalkan Myanmar.
Tak mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari negara yang dikuasai Junta Militer itu. Tak jarang mereka harus mengalami kekerasan dan penyiksaan oleh pihak keamanan. Setelah mereka keluar dari negara tersebut, mereka tidak diperkenankan untuk kembali.
Selain itu, umat muslim Rohingya seperti terpenjara di tempat kelahirannya sendiri. Mereka tidak bisa bebas bepergian ke mana pun. Meskipun hanya ingin ke kota tetangga saja, pihak militer selalu meminta surat resmi. Saat ini, sekitar 200 ribu Muslim Rohingnya terpaksa tinggal di kamp pengungsi seadanya di Bangladesh.
Sebagian besar dari mereka yang tidak tinggal di tempat pengungsian resmi memilih untuk pergi ke negara lain melalui jalur laut, terutama melalui Laut Andaman. Kemudian, pihak Pemerintah Thailand juga mengabarkan bahwa mereka telah menahan sebanyak 100 orang Rohingya beberapa waktu yang lalu.
Pemerintah negeri Gajah Putih itu menolak menerima mereka sebagai pengungsi. Untuk mengatasi masalah ini, PBB sudah bergerak melalui salah satu organisasinya yang mengurusi pengungsi, UNHCR.
Populasi Muslim Rohingya di Myanmar tercatat sekitar 4,0 persen atau hanya sekitar 1,7 juta jiwa dari total jumlah penduduk negara tersebut yang mencapai 42,7 juta jiwa. Jumlah ini menurun drastis dari catatan pada dokumen Images Asia: Report On The Situation For Muslims In Burma pada Mei tahun 1997. Dalam laporan tersebut, jumlah umat Muslim di Burma mendekati angka 7 juta jiwa.
Mereka kebanyakan datang dari India pada masa kolonial Inggris di Myanmar. Sepeninggal Inggris, gerakan antikolonialisasi di Burma berusaha menyingkirkan orang-orang dari etnis India itu, termasuk mereka yang memeluk agama Islam. Bahkan, umat Muslim di Burma sering sekali menjadi korban diskriminasi.
Pada tahun 1978 dan 1991, pihak militer Burma meluncurkan operasi khusus untuk melenyapkan pimpinan umat Islam di Arakan. Operasi tersebut memicu terjadinya eksodus besar-besaran dari kaum Rohingya ke Bangladesh. Dalam operasi khusus itu, militer tak segan-segan menggunakan kekerasan yang cenderung melanggar hak asasi manusia.
Selain itu, State Law and Order Restoration Council (SLORC) yang merupakan rezim baru di Myanmar selalu berusaha untuk memicu adanya konflik rasial dan agama. Tujuannya untuk memecah belah populasi sehingga rezim tersebut tetap bisa menguasai ranah politik dan ekonomi.
Pada 1988, SLORC memprovokasi terjadinya pergolakan anti-Muslim di Taunggyi dan Prome. Lalu, pada Mei 1996, karya tulis bernada anti-Muslim yang diyakini ditulis oleh SLORC tersebar di empat kota di negara bagian Shan. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya kekerasan terhadap kaum Muslim.
Kemudian, pada September 1996, SLORC menghancurkan masjid berusia 600 tahun di negara bagian Arakan dan menggunakan reruntuhannnya untuk mengaspal jalan yang menghubungkan markas militer baru daerah tersebut. Sepanjang Februari hingga Maret 1997, SLORC juga memprovokasi terjadinya gerakan anti-Muslim di negara bagian Karen.
Sejumlah masjid dihancurkan, Alquran dirobek dan dibakar. Umat Islam di negara bagian itu terpaksa harus mengungsi. Burma Digest juga mencatat, pada tahun 2005, telah muncul perintah bahwa anak-anak Muslim yang lahir di Sittwe, negara bagian Rakhine (Arakan) tidak boleh mendapatkan akta kelahiran.
Hasilnya, hingga saat ini banyak anak-anak yang tidak mempunyai akta lahir. Selain itu, National Registration Cards (NRC) atau kartu penduduk di negara Myanmar sudah tidak diberikan lagi kepada mereka yang memeluk agama Islam.
Mereka yang sangat membutuhkan NRC harus rela mencantumkan agama Buddha pada kolom agama mereka.
Bahkan, Pemerintah Myanmar sengaja membuat kartu penduduk khusus untuk umat Muslim yang tujuannya untuk membedakan dengan kelas masyarakat yang lain. Umat Muslim dijadikan warga negara kelas tiga. Umat Islam di negera itu juga merasakan diskriminasi di bidang pekerjaan dan pendidikan.
Umat Islam yang tidak mengganti agamanya tak akan bisa mendapatkan akses untuk menjadi tentara ataupun pegawai negeri. Tak hanya itu, istri mereka pun harus berpindah agama jika ingin mendapat pekerjaan.
Pada Juni 2005, pemerintah memaksa seorang guru Muslim menutup sekolah swastanya meskipun sekolah itu hanya mengajarkan kurikulum standar, seperti halnya sekolah negeri, pemerintah tetap menutup sekolah itu.
Sekolah swasta itu dituding mengajak murid-muridnya untuk masuk Islam hanya karena sekolah itu menyediakan pendidikan gratis. Selain itu, pemerintah juga pernah menangkap ulama Muslim di Kota Dagon Selatan hanya karena membuka kursus Alquran bagi anak-anak Muslim di rumahnya. Begitulah nasib Muslim Rohingya.
Nasib buruk yang dialami Muslim Rohingya mulai mendapat perhatian dari Organisasi Konferensi Islam (OKI). Kantor berita Islam, IINA, pada 1 Juni 2011, melaporkan, Sekretariat Jenderal OKI yang bermarkas di Jeddah telah menggelar sebuah pertemuan dengan para pemimpin senior Rohingya. Tujuannya, agar Muslim Rohingya bisa hidup damai, sejahtera, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Dalam pertemuan itu, para pemimpin senior Rohingya bersepakat untuk bekerja sama dan bersatu di bawah sebuah badan koordinasi. Lewat badan koordiansi itulah, OKI mendukung perjuangan Muslim Rohingya untuk merebut dan mendapatkan hak-haknya.
Pertemuan itu telah melahirkan Arakan Rohingya Union (ARU) atau Persatuan Rohingya Arakan. Lewat organisasi itu, Muslim Rohingya akan menempuh jalur politik untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami Muslim Rohingya. Semoga.
Sumber : Republika
Redaktur: Heri Ruslan
Reporter: Heri Ruslan

Friday, 27 July 2012

Rohingya : Antara Berita, Cerita Dan Derita - Artikel Dan Foto

Presiden Myanmar Thein Sein pada 19Julai telah berkata, Orang Islam Rohingya perlu dihalau keluar dari negara dan dihantar ke khemah khemah pelarian kendalian PBB.

Myanmar’s President Thein Sein said on July 19 that the "only solution" to the plight of Rohingya Muslims is to send the country’s nearly one million Muslims -- which is one of the world's most persecuted minorities -- to refugee camps run by United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR).  Sumber - RARC


Sedangkan dalam masa yang sama, Perdana Menteri Bangladesh, yang menempatkan kebanyakan khemah khemah pelarian itu pula telah berkata, pelarian Rohingya bukan tanggungjawab negara itu. Ujarnya, Bangladesh mempunyai lebihan populasi rakyat dan tiada tempat untuk pelarian.


Malah dari banyak laporan yang dikeluarkan, memang benar, kerajaan Bangladesh telah mengusir ramai pelarian Rohingya yang ingin menyelamatkan diri dari rusuhan kaum/agama yang berlaku di Arakan, untuk kembali ke dalam perbatasan Myanmar. Ada diantara mereka ditahan ditengah tengah sungai Naf dan diarahkan untuk berpatah balik. 





Foto yang menunjukkan pihak pengawal sempadan memintas bot bot pelarian di pertengahan Sungai Naf dan memaksa mereka untuk berpatah balik atau ditunda ke laut lepas.

Sementara itu, dalam masa yang sama, harapan pada pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi turut berkecai apabila 'ikon hak asasi' itu dikatakan enggan untuk mengkritik tindakan Thein Sein yang seolah olah menggalakkan proses penghapusan etnik.

Malah apa yang lebih mendukacitakan, Suu Kyi seolah olah meletakkan kesalahan ke atas kaum Rohingya apabila meminta mereka untuk patuh pada undang undang imigresen dan menghormati kedaulatan undang undang, persisnya kaum Rohingya adalah kaum pendatang di Myanmar. - Rujuk 

Foto Foto Rohingya

Mangsa yang tercedera ketika menyeberangi sempadan sedang dirawat di Hospital Bangladesh namun akan dihantar pulang semula ke Myanmar kerana menceroboh secara haram.






Senario yang menunjukkan beberapa rumah dan kampung dibakar oleh puak pemberontak kaum Rakhine di daerah Sittwe.

Pihak tentera yang dikatakan turut mengambil bahagian dalam peristiwa pembantaian orang Islam Rohingya

Puak Rakhine ini sedang menunggu sesiapa sahaja yang keluar dari rumah (yang dibakar) untuk dibunuh.. dalam laporan dibeberapa tempat lain mengatakan mereka mereka ini bersubahat dengan pihak berkuasa tempatan Nasaka untuk melakukan rampasan dan rompakan secara terbuka terhadap orang Islam Rohingya. Rujuk Berita - Ar Rahmah



Antara mangsa mangsa yang terbunuh sejak terjadinya cetusan rusuhan kaum/agama di Arakan

Kanak kanak/remaja turut menjadi mangsa apabila mereka ditahan oleh pihak berkuasa dimana keluarga mereka tidak akan diberitahu  di pusat/penjara mana mereka akan ditempatkan. Ramai diantara mereka yang terus hilang tanpa dapat dikesan (dipercayai dibunuh)

Penduduk Islam disana tidak diberi layanan berperikemanusiaan. Mereka diherdik, dihina, dihalau, dan diperlakukan wewenangnya. Menurut laporan yang dikeluarkan oleh PBB, Rohingya merupakan puak minoriti  yang paling tertindas didunia. Rujuk Harakahdaily


Wajah wajah hampa saudara Rohingya .. kemana lagi arah yang harus mereka tuju apabila dunia atau negara negara Islam khususnya, tidak berjaya untuk menunjukkan jalan keluar yang terbaik untuk mereka. Kepada siapa lagi yang perlu mereka susunkan tangan untuk memohon bantuan ?
- See more at: http://ghaflah.blogspot.com/2012/07/rohingya-antara-berita-cerita-dan.html#sthash.qcWEW57L.dpuf

Wednesday, 25 July 2012

Rohingya – Menyayat Hati…

“Barangsiapa yang tidak mengambil peduli umat Islam yang lain, dia bukan dari golonganku”[H.R At-Tabrani]

TERINI… Masjid dibakar!!
Terkini…24 july 2012 …peristiwa tragis dan menyayat hati umat Islam Rohingya…Masjid tempat beribadah hangus dibakar!
Kirimkan doamu teman…kita mengadu pd Allah yg Maha Kuasa… Hanya itu yang dapat kita lakukan…
Difahamkan hampir 2.8 juta orang Islam Rohingya telahpun menjadi mangsa penindasan di Myanmar…
“Dalam keseriusan isu umat Islam yang berlaku kini di Syria, Palestin, Iraq dan selainnya, rantau asia juga tidak terlepas daripada mengalami masalah penindasan umat Islam yang dapat diperhatikan seperti yang berlaku sebelum ini di Kemboja, Thailand, dan yang dikecohkan baru-baru ini ialah di Myanmar, isu ‘penghapusan etnik’ Muslim Rohingya di Arakan, Myanmar.
Menurut maklumat yang didapati, sebenarnya, isu Muslim Rohingya baru-baru ini bukanlah satu perkara baru dan ia sebenarnya telah lama dialami oleh masyarakat muslim di Myanmar, khususnya etnik Rohingya ini yang merupakan satu etnik daripada 153 etnik di Myanmar, yang beragama Islam.
Penderitaan Muslim di Myanmar bermula pada 1982 lagi apabila secara tiba-tiba Muslim Rohingya diisytiharkan pendatang asing di negara sendiri. Muslim Rohingya ditindas melalui undang-undang “Burma Citizenship Law of 1982” yang bersifat perkauman agama dan penuh diskriminasi yang diluluskan oleh pemerintah junta Burma pada tahun 1982, yang mengakibatkan golongan muslim Rohingya tidak diiktiraf sebagai warganegara, malah diisytiharkan sebagai ‘pendatang’ di tanahair mereka sendiri. Oleh yang demikian, hak mereka dinafikan, malahan ada yang ditangkap, dipukul dan pelbagai kekejaman lain yang dikenakan kepada mereka.
Sebahagian besar daripada mereka melarikan diri ke negara-negara jiran seperti Bangladesh, United Arab Emirates, Pakistan, Thailand dan termasuk Malaysia sendiri.
Disebabkan penindasan ini, mereka dinafikan hak seratus peratus sehingga anak-anak muslim Rohingya dinafikan pendidikan, kaum wanita dirogol, rumah, tanah dan harta dirampas tanpa pampasan dan mereka juga turut dibunuh tanpa sebarang lingkung pagar undang-undang.
Dikatakan, mereka hanya akan diberikan hak, jika mereka menganut agama Buddha dan meninggalkan Islam.
Ini kisah 30 tahun yang lalu, yang dialami oleh umat Islam Rohingya di Arakan, Myanmar, sehingga kini,.
Dan baru-baru ini kita dikejutkan dengan pergaduhan antara umat Islam Rohingya dan penganut Buddha etnik Rakhine di Myanmar. Menurut berita yang dikeluarkan, sejak 3 Jun 2012 yang lalu wilayah Arakan di Myanmar bergolak apabila pihak polis bersama etnik Rakhine bergabung menyerang komuniti Rohingya menyebabkan ratusan yang terbunuh.
Isu ini makin lama dilihat makin parah apabila umat Islam Rohingya tanpa belas kasihan dibunuh, rumah dan kampung dibakar, termasuk masjid dan madrasah pengajian juga dibakar termasuk 1400 pelajar di dalamnya yang dilakukan oleh etnik Rakhine Buddha yang bersekongkol dengan pihak polis dan penguatkuasa.
Umat Islam Rohingya kini tiada kuasa dan suara mereka tidak didengari oleh sesiapa! Mahupun dunia!
Maka, setelah mengetahui semua ini, wajarkah untuk kita hanya duduk diam, tanpa mengambil tahu perihal keadaan mereka, serta membantu untuk mengembalikan kembali hak mereka?
Adakah kita hanya ingin mengharapkan kuasa UN, PBB, dan sebagainya (yang maklum dinaungi oleh golongan kafir) untuk membantu umat Islam Rohingya?
Ingatlah wahai saudaraku,
Ini bukanlah masalah muslim Rohingya semata-mata. Namun, bila disebut MUSLIM itu, sepatutnya kita juga merasa terpanggil untuk bersuara dalam isu ini. Kerana Allah SWT ada berfirman, bahawa setiap orang beriman itu adalah bersaudara. Maka, sanggupkah kita membiarkan saudara kita ditindas begitu sahaja tanpa sedikitpun bantuan dan kecaknaan dari kita? Bayangkanlah jika yang ditindas itu adalah ibu bapa kita, adik beradik sendiri…apakah kita hanya duduk memerhati? Sedarkah kita bahawa, mereka kini sedang mempertahankan akidah Islam?
Oleh itu, di sini saya (walaupun saya bukanlah juga di antara mereka yang lantang bersuara), menyeru kepada semua yang membaca agar kita mendoakan saudara seakidah di sana, di atas kelemahan dan ketidakmampuan kita untuk membantu lebih dari itu (namun, jika kudrat melebih daripada ini, bantulah dengan berlebih-lebih lagi).
Dan saya juga menyeru agar pihak yang terbabit di Malaysia mengambil berat akan isu ini dan mengambil tindakan untuk menunjukkan keprihatinan rakyat Malaysia, khususnya umat Islam di Malaysia terhadap isu ini dan juga NGO’s agar melakukan sesuatu untuk bersuara bagi pihak mereka.
Wallahu a’lam…”
Terima kasih kerana membaca.. I think u know what should we do as Muslim.. http://mysarikei.blogspot.com/

Thursday, 19 July 2012

Pembantaian Rohingya cermin hidup di bawah rezim kafir yang mengidap Islamophobia


Pembantaian Rohingya cermin hidup di bawah rezim kafir yang mengidap IslamophobiaJAKARTA (Arrahmah.com) - Pembantaian terhadap etnis Muslim Rohingnya di Myanmar (Burma) yang dilakukan oleh umat budha dengan dukungan dari militer Myanmar. Merupakan fakta yang tidak bisa dikesampingkan meskipun ada beberapa foto-foto hoax yang disebar.

“Foto-foto itu (hoax) tidak menjadi alasan untuk menolak adanya pembantaian. Sebab fakta-fakta yang ada menunjukkan adanya pembantaian dan pengusiran,” kata pengamat hubungan internasional, Farid Wadjdi kepada arrahmah.com, Rabu (18/07/2012).
Lebih dari itu, menurut Farid, kasus Rohingya merupakan satu kasus bagaimana cerminan ketika umat Islam hidup di bawah rezim selain Islam yang mengidap Islamophobia (penyakit jiwa yang benci kepada Islam). Di Barat, yang dipimpin Nasrani, mereka juga dinilai menerapkan kebijakan Islamophobia. Begitu juga di India berkembang pula Islamophobia dengan rezim hindunya.
“Sedangkan Myanmar cerminan dari Islamophobia pemerintahan Budha,” ujarnya.
Lanjut alumnus FISIP Universitas Padjadjaran ini, pembantaian tersebut mempunyai hubungan erat dengan kebijakan kolonial sejak penjajahan Inggris. Genosida dan pengusiran umat Muslim Rohingya sudah dilakukan sejak kesultanan Islam yang mana masyarakat Rohingya dikenal telah memeluk Islam sejak masa pemerintahan Islam Umar bin Abdul Aziz.
“Maka cara Inggris menekan orang-orang Islam adalah dengan memakai orang-orang Budha,” lontarnya.
Kebijakan kolonial ini kemudian dilanjutkan oleh rezim militer yang berkuasa di Myanmar. Mereka menyerukan sikap anti Islam untuk menyatukan masyarakat Budha.
“Selama ini rezim militer menjadikan Islam sebagai musuh bersama,” jelas Farid
Itulah sebabnya kenapa Aung Sang Su Kyi yang dikenal sebagai pejuang HAM memilih diam dalam kasus Rohingya. Ini adalah sebuah jebakan rezim militer.
“Karena kalau berpihak, dia tidak akan mendapat dukungan dari masyarakat,” tutur Farid.
Aung Sang Su Kyi sendiri menurutnya tidak bisa dijadikan tumpuan harapan untuk memprotes junta militer Myanmar, sebab Aung sendiri merupakan kaki tangan barat. “Dia masih antek Inggris,” tandas Farid. (bilal/arrahmah.com)

Monday, 9 July 2012

SEBARKAN -TERBARU KEKEJAMAN TERHADAP MINORITI UMAT ISLAM DI MYAMMAR



Gambar antara 8 orang pendakwah islam dalam perjalanan dari daerah Akyab ke Yangon ( ibu negera Myammar) melalui jalan darat tongu.Mereka telah dibunuh secara kejam oleh sekumpulan peganut Budhan dan NASAKA secara secara kejam antara tindakan kekejaman merekakencing keatas mayat dan membaling botol arak kepada mayat tersebut, ini merupakan penghinaan dan keganasan terhadap terhadap umat islam minoriti yang tertindas di Myanmar .