Saturday, 23 June 2012

Sejumlah foto bukti kekerasan di Arakan, para korban dan pengungsi Muslim Rohingya (bagian 2)

ARAKAN (Arrahmah.com) – Penderitaan Muslim Rohingya di Arakan (Rakhine) atau yang telah mengungsi ke negara tetangga, belum juga berakhir. Pembakaran dan penjarahan rumah-rumah Muslim Rohingya di desa-desa di sejumlah kota di Arakan masih terus terjadi. Tak terkecuali pembunuhan, yang telah memakan korban ribuan jiwa, belum lagi kasus pemerkosaan Muslimah Rohingya, serta mereka yang terpaksa mengungsi ke negara tetangga yang juga tak diterima dengan baik, bahkan diusir, semua itu kian menyakiti hati kaum Muslimin di seluruh dunia.

Meskipun telah separah itu, dunia internasional seakan tak berdaya menghadapinya. Muslim Rohingya benar-benar tak dilindungi, baik dari pihak dalam negeri atau pun luar negeri. Padahal, Rakhine bukanlah suatu wilayah yang jauh dari kehidupan manusia yang sulit dijangkau. Bahkan otoritas Burma pun diam dan membiarkan kekejaman terhadap Muslim terus terjadi, mengklaim telah mengirim pasukan keamanan mereka ke Arakan, namun pasukan keamanan benar-benar tak melindungi warga Rohingya, bahkan terlibat dalam kekerasan.

Foto-foto ini adalah gambar yang sebagiannya dipublikasikan oleh beberapa media pro-Rohingya dan sebagian dipublikasikan oleh mereka yang memiliki koneksi ke sumber langsung di Arakan, dan beberapa diambil dari video di Youtube. Ini hanya sebagian bukti kecil dari kekerasan yang terjadi di Arakan. Sementara rincian laporan yang tepat terkait jumlah korban tewas, terluka dan pengungsi Muslim Rohingya belum tercatat, karena saking banyaknya dan keterbatasan pengumpulan informasi.

Diamnya sebagian besar media top skala internasional akan kekejaman yang dilakukan terhadap kaum Muslimin Rohingya, termasuk sebab ketidaktahuan dunia luar akan kondisi Rohingya. Beberapa media internasional yang berhasil terjun ke lapangan, hanya merekam situasi sekilas saja, dan tidak menunjukkan atau melaporkan bagaiamana Muslim dibantai dan rumah mereka dibakar, serta hanya menunjukkan keberadaan pasukan keamanan Burma yang terlihat berjaga-jaga, namun tak diungkap bagaimana pasukan keamanan turut terlibat bersama dengan etnis Buddha Rakhine dalam membakar rumah, menangkap dan membunuh kaum Muslimin. Juga tak diungkapkan terkait ribuan nyawa Muslim yang telah tiada akibat kekejian yang dilakukan terhadap mereka dan puluhan ribu dari mereka terpaksa terlantar.

Sumber-sumber lokal langsung dari Arakan yang masih dapat berkomunikasi dengan dunia luar, mengabarkan situasi yang terjadi sebenarnya melalui kerabat mereka, teman atau media pro-Rohingya, meskipun dengan kemampuan mengumpulkan rincian informasi yang terbatas. Apa yang dapat diberitakan, hanya sebagian kecil saja, yang hanya mewakili bahwa benar-benar terjadi kekejaman terhadap Muslim di Myanmar.

Kaum Muslimin yang sedang dizalimi saat ini di Arakan, sungguh sedang berada dalam keadaan yang sangat memprihatinkan, tak berdaya, hanya mengharap pertolongan Allah, dengan harapan semoga Allah mengirimkan orang-orang yang akan membantu mereka, terutama dari bangsa-bangsa Muslim di dunia yang memiliki kemampuan.

Begitu sulitkah bagi mereka yang memiliki kapasitas untuk menolong Muslim Rohingya? Haruskah menunggu keputusan atau penyelidikan presiden Burma atau PBB? Muslim Rohingya bukanlah imigran ilegal di Arakan, sudah seharusnya mereka mendapatkan perlindungan dari badan internasional yang mengklaim menjunjung tinggi ‘Hukum dan Hak Asasi Manusia!’ yang selalu mereka usung itu.

“Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.” (Al-Buruuj: 8-10)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar.” (Al-Hajj :39-40)

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan diantara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (Muttafaqun ‘Alaih dari al-Nu’man bin Basyir)

(siraaj/arrahmah.com)


- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/06/23/21150-sejumlah-foto-bukti-kekerasan-di-arakan-para-korban-dan-pengungsi-muslim-rohingya-bagian-2.html#sthash.FloEgFOZ.dpuf

Saturday, 16 June 2012

Myanmar perlu ubah dasar terhadap penduduk Rohingya


SETELAH lama tidak mendengar berita tentang keadaan kehidupan etnik Rohingya di Myanmar, tiba-tiba masyarakat dunia dikejutkan dengan insiden keganasan kaum dan agama di negeri Rakhine di barat Myanmar, membabitkan penduduk Rohingya yang beragama Islam dan penduduk Rakhine yang majoriti beragama Buddha.
Ketegangan di negeri itu mengingatkan kita kembali tentang kisah nasib malang yang menimpa etnik ini, yang selama ini diabaikan dan ditindas oleh junta Myanmar sehingga kita tidak menyedari sebahagian kecil daripada mereka ini hidup bergelandangan di negara kita sebagai orang pelarian.
Keganasan terbaru itu dilaporkan bermula pada 3 Jun lalu, setelah sekumpulan perusuh dipercayai penduduk Buddha bertindak membunuh 10 penduduk Islam di sebuah perkampungan berhampiran Taunggup di negeri Rakhine bagi membalas dendam berhubung satu kes pembunuhan dan rogol membabitkan seorang wanita Buddha yang didakwa dilakukan oleh penganut Islam.
Setakat ini, sebanyak 28 orang dilaporkan terbunuh dan 53 lagi cedera, serta lebih 1,600 rumah kediaman musnah dibakar dalam keganasan terburuk di Myanmar itu.
Sebenarnya keganasan kaum dan agama di negeri Rakhine berpunca daripada kegagalan kerajaan Myanmar menyelesaikan masalah akar umbi yang membabitkan penduduk Rohingya sejak berdekad-dekad lalu.
Krisis yang melanda negeri Rakhine kali ini, merupakan rentetan daripada pengalaman hitam dan penderitaan pahit yang dilalui oleh etnik minoriti Islam di Myanmar ini sejak 1962 lagi setelah tentera Myanmar di bawah Jeneral Ne Win merampas kuasa dan menjalankan tindakan kekerasan terhadap penduduk Islam Rohingya.
Keganasan kaum dan agama akan terus melanda di negeri ini pada masa depan, selagi isu akar umbi ini tidak diselesaikan berhubung status penduduk Rohingya sebagai penduduk pribumi negeri Rakhine.
Kerajaan Myanmar juga perlu mengiktiraf penduduk Rohingya sebagai rakyat Myanmar sama seperti penduduk pribumi lain seperti etnik Shan, Karen, Kachin, Kayin, Chin dan banyak lagi di negara itu.
Penduduk Myanmar berpendirian, etnik Rohingya yang kini berjumlah kira-kira 3 juta orang, sebenarnya bukanlah penduduk pribumi tetapi merupakan penduduk Benggali yang beragama Islam berasal dari Pakistan Timur (kini dikenali sebagai Bangladesh) yang sebelum itu merupakan sebahagian daripada benua kecil India menetap di Rakhine semasa zaman Arakan atau Burma dijajah British.
Pihak Rohingya pula berhujah, mereka merupakan masyarakat pribumi keturunan Rohang, nama lama bagi Arakan, Burma.
Atas dasar itu, wujudlah ketidaksefahaman antara kedua-dua pihak, sebaliknya menimbulkan kebencian di kalangan penduduk Rakhine yang beragama Buddha terhadap penduduk Rohingya.
Penderitaan penduduk Rohingya semakin melarat apabila junta tentera yang memerintah Myanmar ketika itu melaksanakan Undang-undang Kewarganegaraan Burma 1982 yang membatalkan kerakyatan penduduk Rohingya. Secara tiba-tiba penduduk Islam Rohingya diisytiharkan pendatang asing di negara sendiri dan mereka terus ditindas melalui undang-undang itu.
Sejak itu hak mereka dinafikan sehingga Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) mengkelaskan kaum itu sebagai antara minoriti yang paling banyak ditindas.
Walaupun tindakan kekerasan oleh pihak junta tentera terhadap penduduk Rohinya kemudian berkurangan, berikutan tekanan masyarakat antarabangsa ke atas junta tentera, tetapi tindakan dan dasar-dasar tidak berperikemanusiaan terus dikenakan terhadap penduduk Rohinya melalui NaSaKa atau Jawatankuasa Perkampungan Tentera, yang menyekat pergerakan penduduk.
Akibat diskriminasi dan tindakan kekerasan oleh junta tentera itu, kini separuh daripada tiga juta penduduk Rohingya tinggal bergelandangan sebagai pelarian di luar negara atau di khemah-khemah pelarian di sempadan Bangladesh dan Thailand.
Kini terdapat antara 10,000 atau 12,000 orang pelarian Rohingya yang berdaftar dengan Suruhanjaya Tinggi Pertubuhan Bangsa Bersatu Bagi Orang Pelarian (UNHCR) di Malaysia pada masa ini. NaSaKa bertindak sebagai 'penjaga' kepada penduduk Rohingya, dalam segala tujuan dan urusan, namun pada hakikatnya mereka membina penjara dalam kehidupan penduduk Rohingya. Sebagai contoh, untuk pergi ke kampung lain, seorang penduduk Rohinya perlu mendapat 'pas berkelakuan selamat' yang perlu dibayar.
NaSaKa juga menentukan pasangan mana yang sesuai untuk berkahwin melalui upacara-upacara agama yang bertentangan dengan ajaran Islam dan juga dikenakan yuran yang tinggi bagi mendapatkan kelulusan kontrak perkahwinan.
Pembinaan masjid dilarang dan kerja-kerja membaik pulih masjid-masjid lama perlu mendapat kelulusan NaSaKa dengan dikenakan yuran tertentu. Semua pembayaran yang terlibat bagi urusan itu juga perlu ditanggung oleh mereka yang mahu menjalankan kerja-kerja baik pulih itu.
Sebagai pengenalan diri pula, penduduk Rohinya diberikan Kad Putih sebagai penduduk sementara, manakala penduduk Rakhine diberi Kad Merah Jambu. Dengan cara itu, mereka mudah mengenali siapakah penduduk Rohingya dan siapakah penduduk Rakhine.
Penduduk yang memiliki Kad Merah Jambu dibenarkan bergerak ke mana-mana sahaja termasuk pergi ke Yangoon, tetapi mereka yang memiliki Kad Putih pergerakan mereka hanya terbatas di kampung itu sahaja. Walaupun, penduduk Rohingya dibenar bekerja dalam projek-projek kerajaan tetapi mereka hanya diambil bekerja sebagai buruh kasar.
Penduduk Rohingya dibenarkan mengusahakan tanah, tetapi sebagai penduduk yang tidak mempunyai kewarganegaraan, mereka tidak boleh memiliki tanah.
Kini sudah sampai masanya, kerajaan baru Myanmar mengubah dasarnya terhadap penduduk Rohingya sesuai dengan dasar pembaharuan dan demokrasi yang dilancarkannya bagi memberi keadilan kepada penduduk Rohingya menikmati hidup seperti penduduk Myanmar yang lain dengan mempunyai hak sama ke atas pendidikan, ekonomi, sosial dan beragama.


Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/Rencana/20120616/re_03/Myanmar-perlu-ubah-dasar-terhadap-penduduk-Rohingya#ixzz2oO1RUhMu
© Utusan Melayu (M) Bhd 

Wednesday, 13 June 2012

Keganasan di Rakhine masih belum reda


RAKHINE 12 Jun - Insiden tembakan dan pembakaran rumah-rumah penduduk terus berlaku di negeri Rakhine di barat Myanmar, hari ini ketika pasukan tentera terus bergelut bagi mengawal keadaan.
Beribu-ribu penduduk lari menyelamatkan diri sejak keganasan etnik dan agama tercetus di negeri itu pada Jumaat lalu.
Setakat ini, konflik melibatkan etnik Rakhine beragama Buddha dan etnik Rohinya yang beragama Islam itu telah menyebabkan sekurang-kurangnya 12 orang terbunuh dan beratus-ratus kediaman terbakar.
Presiden Thein Sein yang telah mengisytiharkan darurat dan menempatkan tentera di negeri itu untuk mengawal keadaan memberi amaran, ketegangan yang berlaku boleh mengancam pembaharuan demokrasi di negara ini.
Di ibu negeri Sittwe, polis hari ini melepaskan tembakan amaran ke udara bagi menyuraikan sekumpulan Rohingya yang membakar rumah-rumah penduduk di satu kawasan kediaman.
Seorang jurugambar Associated Press melihat ramai penduduk lari menyelamatkan diri.
Polis turut melepaskan tembakan amaran ke udara di satu lagi kawasan kediaman di ibu negeri Rakhine itu bagi menyuraikan beratus-ratus perusuh yang membawa kayu dan batu.
Kebanyakan kawasan di bandar pelabuhan itu dilaporkan masih tegang dengan sekolah-sekolah dan premis perniagaan ditutup.
“Ketegangan kini berada pada tahap tinggi dan situasi masih berbahaya," kata seorang etnik Rakhine.
Sementara itu, pasukan Pengawal Sempadan Bangladesh (BGB) memintas tiga bot yang membawa etnik Rohingya yang cuba memasuki negara itu, semalam.
Mejar Shafiqur Rahman berkata, ketiga-tiga bot yang cuba memasuki Bangladeh melalui Sungai Naf itu membawa 103 etnik Rohingya, termasuk 81 wanita dan kanak-kanak dari Sittwe. - AGENSI


Artikel Penuh: http://www.utusan.com.my/utusan/Luar_Negara/20120613/lu_03/Keganasan-di-Rakhine-masih-belum-reda#ixzz2oO1q6xXP
© Utusan Melayu (M) Bhd